KEYWORD :
Pohon pisang, Gula-gula, Rasi, Salju, Polkadot
Terlihat
salju dimana-mana setelah hujan salju tiga hari berturut-turut. Aku tinggal di
pinggiran Kota Dusviaz, kota yang terbilang cukup berkembang dan memiliki
populasi terbanyak di dunia. Tetapi di daerah pinggiran yang dinamakan Polkas
ini, hanya dihuni oleh satu per seratus juta populasi total, tepatnya tiga
puluh orang, karena kami memiliki hal yang spesial pada diri kami. Pada
awalnya, aku hanyalah manusia biasa seperti pada umumnya. Akan tetapi, ketika
umurku lima belas tahun, pada suatu malam, tepatnya pukul tiga dini hari, dalam
kegelapan seseorang datang ke kamarku dan berkata, “Maaf, tapi ini adalah
satu-satunya jalan keluar.”
Sempat
aku bertanya pada diriku sendiri, “Apakah ini mimpi?” Memang pada saat itu aku
tidak dalam keadaan sadar sepenuhnya, tetapi semua itu terlalu nyata untuk
dikatakan mimpi. Sekitar seminggu setelah kejadian itu, muncul satu bintik
hitam yang kemudian perlahan-lahan, hingga kurang lebih dua tahun kemunculan
bintik pertama, bintik itu akhirnya memenuhi tanganku. Melihat keanehan ini,
orangtuaku segera membawaku ke dokter ternama di Kota Dusviaz, tidak lain dan
tidak bukan ialah Dokter Tipo. Kabar baik yang kuharapkan tidaklah datang.
Sebaliknya, Dokter Tipo berkata bahwa ini mungkin peyakit mematikan dan akan
menular ke penduduk lainnya. Sehingga Dokter Tipo menyarankan ke pemerintah
untuk menempatkan aku di suatu daerah yang jauh dari pusat kota agar orang
tidak ketakutan akan keanehan pada diriku ini.
Aku
dipisahkan dengan keluargaku secara paksa. Namun apa daya, kekuatan keluargaku
tidak sebanding dengan kekuatan pemerintah. Mereka mengancam akan mengeluarkan
keluargaku juga jika aku tidak mau pergi. Dengan berat hati, aku menerima
tawaran mereka. Sepanjang perjalananaku, orang-orang kota memandangiku dengan
tatapan aneh, “Ah… sudahlah, aku tidak boleh mengeluh. Semua sudah terjadi,”
ujarku dalam hati. Sesampainya di sana, sungguh mengejutkan, ternyata ada
orang-orang yang memiliki motif polkadot di tangan sepertiku. Melihat mereka,
setidaknya aku menjadi sedkit lega, karena aku tidak sendiri di tempat asing
ini.
Baru
seminggu di sini, aku sudah rindu memakan gula-gula kesukaanku. Teman-temanku
pun terlihat seperti begitu meratapi nasib. Aku berpikir, tidak mungkin akan
bisa bahagia kalau begini terus. Aku pun menyatukan mereka, lalu mengajak
mereka untuk membuat jadwal dan membagi pekerjaan yang akan kami lakukan.
Setelah berdiskusi, mulai sekarang, kami menyebut diri kami dengan sebutan
Parentela yang berarti serupa, serupa dalam artian nasib. Tidak lupa setiap
rabu malam, kami putuskan untuk melakukan acara api unggun disertai bernyanyi
dan menari bersama untuk menghibur diri dan menghilangkan penat setelah
melakukan pekerjaan masing-masing. Selanjutnya kegiatan ini disebut dengan
Pesta Parentela.
Tujuh
tahun sudah kami lewati hidup di daerah pinggiran Kota Dusviaz ini. Pada malam
itu, tepatnya ketika kami melakukan pesta parantela, seseorang datang
menghampiri kami. Tidak biasanya kami kedatangan tamu, “Ada apakah gerangan?”
tanyaku dalam hati. Sosok itu pun terungkap setelah ia mendekati api unggun.
Raut muka yang pernah terlintas di pikiran, dan terasa tidak asing lagi, dan
begitu melihat nama di jas putih yang ia kenakan, tidak salah lagi!! Itu Dokter
Tipo! Kami kesal melihat seseorang yang telah memisahkan kami dari orang yang
kami sayangi, seseorang yang telah menghancurkan masa depan kami. Namun,
sebelum keadaan mengarah ke pertikaian, Dokter Tipo berkata, “Kalian berhasil
bertahan di sini, dan akhirnya usia kalian sudah dua puluh lima tahun. Ayo,
kita selesaikan semua ini!”
Bingung
mendengar hal itu, kami terdiam dan bertanya dalam hati, “Apa-apaan ini?” Tepat
sebelum pertanyaan tersebut terlontarkan, Dokter Tipo meneruskan
pembicaraannya.
“Kalian tahu mengapa saya
mengumpulkan kalian di tempat ini? Ini semua agar saya bisa menjelaskan hal
yang akan terjadi pada dunia ini. Sekitar enam ribu tahun silam, seorang
penyihir kegelapan yang bertujuan mendominasi dunia yang bernama Shrey,
mengorbankan tubuhnya demi melakukan ritual untuk menyegel penyihir cahaya
bernama Ligtum, ketika langit menunjukkan rasi bintang Athenna. Dan ia akan bangkit
lagi ketika rasi bintang Athenna berikutnya tampak.”
Aku
bertanya dengan nada agak kesal, “Lantas apa hubungannya dengan kami??”
“Tenang. Kalian tahu mengapa di
tangan kalian muncul motif polkadot? Sebelumnya, saya mohon maaf, itu semua
gara-gara mantra yang kuberi pada kalian. Mantra itu berguna untuk mengaktifkan
tiga puluh batu keramat yang akan digunakan sebagai segel pembalik dari ritual
yang dilakukan Shrey, karena batu itu hanya akan bisa dipegang oleh orang yang
terkena mantra Rendot. Kalian tentu heran mengapa saya bisa mengetahui hal
semacam ini, tapi ini adalah informasi rahasia yang yang diturunkan secara
turun-temurun dalam keluarga kami. Mengingat rasi bintang Athenna muncul setiap
enam ribu tahun sekali, kalau diperkirakan akan terjadi lima bulan lagi. Oleh
karena itu, aku meminta bantuan kalian untuk mengambil dan mengumpulkan tiga
puluh batu tersebut, dari Hutan Kebingungan. Akan kubawa kalian ke sana
menggunakan kendaraan yang telah kusediakan.”
“Tunggu
dulu! Kami belum sepenuhnya percaya padamu. Kami akan memikirkannya terlebih
dahulu,” aku memotong pembicaraannya.
“Waktu kita tidak banyak. Saya harap
kalian memikirkan baik-baik tawaran saya ini. Saya tunggu kepastiannya minggu
depan,” tambah Dokter Tipo.
Sekarang
saya berdiri di atas salju yang menumpuk ini, memikirkan apa yang harus kami
lakukan. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi dan menyetujui tawaran itu,
karena kami berpendapat bahwa lebih baik mencoba dan mungkin motif polkadot ini
bisa hilang, daripada berdiam diri dan berencana menghabiskan hidup di sini.
Keesokan harinya, pada Rabu malam, tepat seminggu setelah kedatangan
sebelumnya, Dokter Tipo kembali dan menanyakan hasil perundingan kami.
Tidak mau membuang-buang waktu, dua
hari setelah malam itu kami langsung menuju kediaman rahasia Dokter Tipo di
puncak bukit. Di sana kami dibagi menjadi enam tim. Hutan Kebingungan sangatlah
luas, bisa dikatakan memiliki luas yang hampir menyamai satu benua. Enam tim
yang telah dibentuk dibawa ke lokasi
yang berbeda-beda. Masing-masing dari kami memegang peta lokasi tersebut di mana
terdapat tanda yang merupakan lokasi batu keramat yang kami cari. Kami
menyepakati bahwa orang yang fisiknya tidak terlalu kuatlah yang mengambil batu
di tanda terdekat dari lokasi kami.
Kami
segera mulai mencari, mengingat waktu kemunculan rasi bintang Athenna kurang
dari tiga bulan lagi. Tidak beruntung sekali aku, di antara teman setimku,
fisik kulah yang paling kuat, sehingga aku mendapatkan tempat yang paling jauh.
Di dalam hutan ini, jenis pohon dan permukaan tanahnya semuanya sama, sehingga
aku harus meninggalkan jejak agar tidak tersesat ketika kembali ke lokasi awal
nanti.
Selain
itu, sering terdengar sesuatu seperti nada-nada yang aneh yang seakan ingin
mengontrol pikiran. Untung saja Dokter Tipo sudah menasihati kami sebelumnya
agar tetap sadar dan tidak terlalu mendengarkan nada itu, karena apabila sudah
dikendalikan, maka pendengarnya akan menjadi kebingungan dan tidak akan pernah
bisa keluar dari hutan tersebut. Pantas saja dinamakan Hutan Kebingungan.
Ia
juga berpesan agar aku tidak melewati rute lain selain yang digambarkan di peta.
Tetapi, melihat rute yang diberikan Dokter Tipo terlalu panjang, aku pun ngeyel
dan mengambil rute lain yang kuanggap lebih cepat. Dalam perjalanan, aku
menemukan pohon pisang yang sepertinya hanya ada satu-satunya di sini. Ketika
ingin kupetik buahnya, pohon itu berbicara, “Apa yang kau lakukan di sini, Anak
Muda?”
Aku
benar-benar terkejut, tetapi aku coba tenang dan menjawab, “Aku ke sini untuk
mencari batu keramat. Apakah kau tahu mengenai itu?”
“Sebaiknya
kau jangan mencarinya, karena akan terjadi sesuatu yang berbahaya kelak,”
jawabnya.
Aku
segera menggulung kain yang ada di tanganku ini sembari menjawab, “Kau lihat
ini? Seseorang mengatakan, aku butuh batu itu untuk menghilangkannya. Gara-gara
ini, hidupku hancur!.”
Pohon pisang terdiam sejenak, sebelum akhirnya
berkata, “Baiklah, akan kuberitahu, batu itu berada sekitar dua mil di depan.
Bisakah kau membawa batu itu kepadaku nanti? Aku mau melihatnya.”
Aku
pikir tidak ada salahnya jika
menghampirinya lagi, dan aku pun meng-iya-kannya.
Setelah
lama berjalan, akhirnya aku melihat batu tersebut terletak di atas sebuah
altar. Aku membaca mantra yang dituliskan Dokter Tipo sehingga duri yang
menyelimuti batu itu terlepas. Aku pun segera kembali ke tempat pohon pisang
ajaib sebelumnya. Ia memintaku untuk meletakkan batu tersebut di depannya.
Kemudian ia mengucapkan mantra aneh dan seketika batu itu bersinar, dan
perlahan redup. Lalu pohon pisang itu memintaku untuk mengambil tongkat kecil
yang ada di sela-sela buahnya. Ia berkata, “Bawalah tongkat ini. Ini akan
menjagamu dalam bahaya.” Karena aku sedang buru-buru, tanpa sadar aku melakukan
semua yang diperintahnya. Mengingat sisa waktu tinggal tiga minggu lagi, aku
segera kembali ke lokasi awal, dan ternyata kami para Parentela berhasil
mengumpulkan semua batu keramat. Kami langsung kembali ke villa dan
mempersiapkan kebutuhan pada hari kemunculan rasi bintang Athenna nanti.
Malam
ini terang sekali karena rasi bintang Athenna telah muncul. Kami diperintahkan
untuk menyusun batu-batu keramat membentuk rasi bintang Athenna dan berdiri
mengelilingi batu tersebut. Setelah waktu menunjukkan tepat pukul 00.00,
batu-batu tersebut bercahaya, perlahan motif polkadot di tubuh kami hilang, dan
membentuk sesuatu di tengah lingkaran. Tiba-tiba Dokter Tipo berbicara, “Terima
kasih. Karena kebodohan kalian, Shrey akan bangkit kembali, dan kami akan
mendominasi dunia ini! Hahaha….” Kami kaget mendengarnya, dan kami sangat
menyesal. Ternyata Dokter Tipo merupakan kaki tangan Shrey. Tapi apa daya,
Shrey sudah bangkit dari bintik hitam yang merupakan bagian tubuh kami.
Seketika
kurasakan tongkat yang berada di balik bajuku bercahaya, dan perlahan ia
berkata, “Aku adalah pohon pisang yang di hutan kebingungan yang merupakan
penjelmaan Ligtum yang telah disegel Shrey. Ini merupakan sebagian kekuatanku,
bacalah mantra ini, lalu tongkat ini akan berubah menjadi cambuk, lalu
cambuklah Dokter Tipo selagi dia lengah.”
Ketika
aku mendapatkan kesempatan, dan mencambuknya, ternyata dia dapat menghindar.
Terjadilah pertarungan sengit di antara kami. Berkat kekuatan dari Ligtum, aku
bisa menghindari semua sihir Dokter Tipo. Dan berkat bantuan para Parentela
yang mengalihkan perhatian Dokter Tipo dengan melempari batu kepadanya,
akhirnya aku berhasil mencambuknya.
Dokter
Tipo lenyap. Tidak tinggal diam, Shrey berkata, “Jangan sombong dulu! Akulah
lawanmu berikutnya.” Tetapi ia gagal ketika ia akan mengeluarkan sihirnya.
Lightum telah memberikan mantra penggagal di salah satu batu keramat itu.
Meskipun sempat kembali ke wujudnya, ia tidak akan bisa menggunakan
kekuatannya. Lalu aku dan semua Parentela lain menghancurkan batu-batu keramat
tersebut sebelum Shrey menjadi sosok yang sempurna, sesuai perintah Lightum.
Ketika semua batu hancur, Shrey menjerit kesakitan sekeras-kerasnya.
Ligtum
meminta agar aku melempar cambuk ini ke Shrey yang kesakitan. Kemudian mereka
berdua lenyap. Ternyata kali ini Ligtum menyegel Shrey untuk selamanya dengan
mengorbankan hidupnya. Meskipun motif polkadot di tubuh kami telah hilang, dan
kami telah kembali ke keluarga kami serta memiliki hidup yang indah, semua
kisah ini akan kami ceritakan kepada anak cucu kami kelak, agar mereka tahu
perjuangan kami, perjuangan Para Parantela!