Selasa, 21 Februari 2012

[Lomba Fiksi Fantasi 2012] Para Parentela

KEYWORD  : Pohon pisang, Gula-gula, Rasi, Salju, Polkadot

            Terlihat salju dimana-mana setelah hujan salju tiga hari berturut-turut. Aku tinggal di pinggiran Kota Dusviaz, kota yang terbilang cukup berkembang dan memiliki populasi terbanyak di dunia. Tetapi di daerah pinggiran yang dinamakan Polkas ini, hanya dihuni oleh satu per seratus juta populasi total, tepatnya tiga puluh orang, karena kami memiliki hal yang spesial pada diri kami. Pada awalnya, aku hanyalah manusia biasa seperti pada umumnya. Akan tetapi, ketika umurku lima belas tahun, pada suatu malam, tepatnya pukul tiga dini hari, dalam kegelapan seseorang datang ke kamarku dan berkata, “Maaf, tapi ini adalah satu-satunya jalan keluar.”
Sempat aku bertanya pada diriku sendiri, “Apakah ini mimpi?” Memang pada saat itu aku tidak dalam keadaan sadar sepenuhnya, tetapi semua itu terlalu nyata untuk dikatakan mimpi. Sekitar seminggu setelah kejadian itu, muncul satu bintik hitam yang kemudian perlahan-lahan, hingga kurang lebih dua tahun kemunculan bintik pertama, bintik itu akhirnya memenuhi tanganku. Melihat keanehan ini, orangtuaku segera membawaku ke dokter ternama di Kota Dusviaz, tidak lain dan tidak bukan ialah Dokter Tipo. Kabar baik yang kuharapkan tidaklah datang. Sebaliknya, Dokter Tipo berkata bahwa ini mungkin peyakit mematikan dan akan menular ke penduduk lainnya. Sehingga Dokter Tipo menyarankan ke pemerintah untuk menempatkan aku di suatu daerah yang jauh dari pusat kota agar orang tidak ketakutan akan keanehan pada diriku ini.       
Aku dipisahkan dengan keluargaku secara paksa. Namun apa daya, kekuatan keluargaku tidak sebanding dengan kekuatan pemerintah. Mereka mengancam akan mengeluarkan keluargaku juga jika aku tidak mau pergi. Dengan berat hati, aku menerima tawaran mereka. Sepanjang perjalananaku, orang-orang kota memandangiku dengan tatapan aneh, “Ah… sudahlah, aku tidak boleh mengeluh. Semua sudah terjadi,” ujarku dalam hati. Sesampainya di sana, sungguh mengejutkan, ternyata ada orang-orang yang memiliki motif polkadot di tangan sepertiku. Melihat mereka, setidaknya aku menjadi sedkit lega, karena aku tidak sendiri di tempat asing ini.          
Baru seminggu di sini, aku sudah rindu memakan gula-gula kesukaanku. Teman-temanku pun terlihat seperti begitu meratapi nasib. Aku berpikir, tidak mungkin akan bisa bahagia kalau begini terus. Aku pun menyatukan mereka, lalu mengajak mereka untuk membuat jadwal dan membagi pekerjaan yang akan kami lakukan. Setelah berdiskusi, mulai sekarang, kami menyebut diri kami dengan sebutan Parentela yang berarti serupa, serupa dalam artian nasib. Tidak lupa setiap rabu malam, kami putuskan untuk melakukan acara api unggun disertai bernyanyi dan menari bersama untuk menghibur diri dan menghilangkan penat setelah melakukan pekerjaan masing-masing. Selanjutnya kegiatan ini disebut dengan Pesta Parentela.
Tujuh tahun sudah kami lewati hidup di daerah pinggiran Kota Dusviaz ini. Pada malam itu, tepatnya ketika kami melakukan pesta parantela, seseorang datang menghampiri kami. Tidak biasanya kami kedatangan tamu, “Ada apakah gerangan?” tanyaku dalam hati. Sosok itu pun terungkap setelah ia mendekati api unggun. Raut muka yang pernah terlintas di pikiran, dan terasa tidak asing lagi, dan begitu melihat nama di jas putih yang ia kenakan, tidak salah lagi!! Itu Dokter Tipo! Kami kesal melihat seseorang yang telah memisahkan kami dari orang yang kami sayangi, seseorang yang telah menghancurkan masa depan kami. Namun, sebelum keadaan mengarah ke pertikaian, Dokter Tipo berkata, “Kalian berhasil bertahan di sini, dan akhirnya usia kalian sudah dua puluh lima tahun. Ayo, kita selesaikan semua ini!”
Bingung mendengar hal itu, kami terdiam dan bertanya dalam hati, “Apa-apaan ini?” Tepat sebelum pertanyaan tersebut terlontarkan, Dokter Tipo meneruskan pembicaraannya.
            “Kalian tahu mengapa saya mengumpulkan kalian di tempat ini? Ini semua agar saya bisa menjelaskan hal yang akan terjadi pada dunia ini. Sekitar enam ribu tahun silam, seorang penyihir kegelapan yang bertujuan mendominasi dunia yang bernama Shrey, mengorbankan tubuhnya demi melakukan ritual untuk menyegel penyihir cahaya bernama Ligtum, ketika langit menunjukkan rasi bintang Athenna. Dan ia akan bangkit lagi ketika rasi bintang Athenna berikutnya tampak.”
Aku bertanya dengan nada agak kesal, “Lantas apa hubungannya dengan kami??”
            “Tenang. Kalian tahu mengapa di tangan kalian muncul motif polkadot? Sebelumnya, saya mohon maaf, itu semua gara-gara mantra yang kuberi pada kalian. Mantra itu berguna untuk mengaktifkan tiga puluh batu keramat yang akan digunakan sebagai segel pembalik dari ritual yang dilakukan Shrey, karena batu itu hanya akan bisa dipegang oleh orang yang terkena mantra Rendot. Kalian tentu heran mengapa saya bisa mengetahui hal semacam ini, tapi ini adalah informasi rahasia yang yang diturunkan secara turun-temurun dalam keluarga kami. Mengingat rasi bintang Athenna muncul setiap enam ribu tahun sekali, kalau diperkirakan akan terjadi lima bulan lagi. Oleh karena itu, aku meminta bantuan kalian untuk mengambil dan mengumpulkan tiga puluh batu tersebut, dari Hutan Kebingungan. Akan kubawa kalian ke sana menggunakan kendaraan yang telah kusediakan.”
“Tunggu dulu! Kami belum sepenuhnya percaya padamu. Kami akan memikirkannya terlebih dahulu,” aku memotong pembicaraannya.
            “Waktu kita tidak banyak. Saya harap kalian memikirkan baik-baik tawaran saya ini. Saya tunggu kepastiannya minggu depan,” tambah Dokter Tipo.
Sekarang saya berdiri di atas salju yang menumpuk ini, memikirkan apa yang harus kami lakukan. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi dan menyetujui tawaran itu, karena kami berpendapat bahwa lebih baik mencoba dan mungkin motif polkadot ini bisa hilang, daripada berdiam diri dan berencana menghabiskan hidup di sini. Keesokan harinya, pada Rabu malam, tepat seminggu setelah kedatangan sebelumnya, Dokter Tipo kembali dan menanyakan hasil perundingan kami.
            Tidak mau membuang-buang waktu, dua hari setelah malam itu kami langsung menuju kediaman rahasia Dokter Tipo di puncak bukit. Di sana kami dibagi menjadi enam tim. Hutan Kebingungan sangatlah luas, bisa dikatakan memiliki luas yang hampir menyamai satu benua. Enam tim yang telah dibentuk dibawa  ke lokasi yang berbeda-beda. Masing-masing dari kami memegang peta lokasi tersebut di mana terdapat tanda yang merupakan lokasi batu keramat yang kami cari. Kami menyepakati bahwa orang yang fisiknya tidak terlalu kuatlah yang mengambil batu di tanda terdekat dari lokasi kami.
Kami segera mulai mencari, mengingat waktu kemunculan rasi bintang Athenna kurang dari tiga bulan lagi. Tidak beruntung sekali aku, di antara teman setimku, fisik kulah yang paling kuat, sehingga aku mendapatkan tempat yang paling jauh. Di dalam hutan ini, jenis pohon dan permukaan tanahnya semuanya sama, sehingga aku harus meninggalkan jejak agar tidak tersesat ketika kembali ke lokasi awal nanti.
Selain itu, sering terdengar sesuatu seperti nada-nada yang aneh yang seakan ingin mengontrol pikiran. Untung saja Dokter Tipo sudah menasihati kami sebelumnya agar tetap sadar dan tidak terlalu mendengarkan nada itu, karena apabila sudah dikendalikan, maka pendengarnya akan menjadi kebingungan dan tidak akan pernah bisa keluar dari hutan tersebut. Pantas saja dinamakan Hutan Kebingungan.
Ia juga berpesan agar aku tidak melewati rute lain selain yang digambarkan di peta. Tetapi, melihat rute yang diberikan Dokter Tipo terlalu panjang, aku pun ngeyel dan mengambil rute lain yang kuanggap lebih cepat. Dalam perjalanan, aku menemukan pohon pisang yang sepertinya hanya ada satu-satunya di sini. Ketika ingin kupetik buahnya, pohon itu berbicara, “Apa yang kau lakukan di sini, Anak Muda?”
Aku benar-benar terkejut, tetapi aku coba tenang dan menjawab, “Aku ke sini untuk mencari batu keramat. Apakah kau tahu mengenai itu?”
“Sebaiknya kau jangan mencarinya, karena akan terjadi sesuatu yang berbahaya kelak,” jawabnya.
Aku segera menggulung kain yang ada di tanganku ini sembari menjawab, “Kau lihat ini? Seseorang mengatakan, aku butuh batu itu untuk menghilangkannya. Gara-gara ini, hidupku hancur!.”
 Pohon pisang terdiam sejenak, sebelum akhirnya berkata, “Baiklah, akan kuberitahu, batu itu berada sekitar dua mil di depan. Bisakah kau membawa batu itu kepadaku nanti? Aku mau melihatnya.”
Aku pikir tidak ada salahnya  jika menghampirinya lagi, dan aku pun meng-iya-kannya.
Setelah lama berjalan, akhirnya aku melihat batu tersebut terletak di atas sebuah altar. Aku membaca mantra yang dituliskan Dokter Tipo sehingga duri yang menyelimuti batu itu terlepas. Aku pun segera kembali ke tempat pohon pisang ajaib sebelumnya. Ia memintaku untuk meletakkan batu tersebut di depannya. Kemudian ia mengucapkan mantra aneh dan seketika batu itu bersinar, dan perlahan redup. Lalu pohon pisang itu memintaku untuk mengambil tongkat kecil yang ada di sela-sela buahnya. Ia berkata, “Bawalah tongkat ini. Ini akan menjagamu dalam bahaya.” Karena aku sedang buru-buru, tanpa sadar aku melakukan semua yang diperintahnya. Mengingat sisa waktu tinggal tiga minggu lagi, aku segera kembali ke lokasi awal, dan ternyata kami para Parentela berhasil mengumpulkan semua batu keramat. Kami langsung kembali ke villa dan mempersiapkan kebutuhan pada hari kemunculan rasi bintang Athenna nanti.
Malam ini terang sekali karena rasi bintang Athenna telah muncul. Kami diperintahkan untuk menyusun batu-batu keramat membentuk rasi bintang Athenna dan berdiri mengelilingi batu tersebut. Setelah waktu menunjukkan tepat pukul 00.00, batu-batu tersebut bercahaya, perlahan motif polkadot di tubuh kami hilang, dan membentuk sesuatu di tengah lingkaran. Tiba-tiba Dokter Tipo berbicara, “Terima kasih. Karena kebodohan kalian, Shrey akan bangkit kembali, dan kami akan mendominasi dunia ini! Hahaha….” Kami kaget mendengarnya, dan kami sangat menyesal. Ternyata Dokter Tipo merupakan kaki tangan Shrey. Tapi apa daya, Shrey sudah bangkit dari bintik hitam yang merupakan bagian tubuh kami.
Seketika kurasakan tongkat yang berada di balik bajuku bercahaya, dan perlahan ia berkata, “Aku adalah pohon pisang yang di hutan kebingungan yang merupakan penjelmaan Ligtum yang telah disegel Shrey. Ini merupakan sebagian kekuatanku, bacalah mantra ini, lalu tongkat ini akan berubah menjadi cambuk, lalu cambuklah Dokter Tipo selagi dia lengah.”
Ketika aku mendapatkan kesempatan, dan mencambuknya, ternyata dia dapat menghindar. Terjadilah pertarungan sengit di antara kami. Berkat kekuatan dari Ligtum, aku bisa menghindari semua sihir Dokter Tipo. Dan berkat bantuan para Parentela yang mengalihkan perhatian Dokter Tipo dengan melempari batu kepadanya, akhirnya aku berhasil mencambuknya.
Dokter Tipo lenyap. Tidak tinggal diam, Shrey berkata, “Jangan sombong dulu! Akulah lawanmu berikutnya.” Tetapi ia gagal ketika ia akan mengeluarkan sihirnya. Lightum telah memberikan mantra penggagal di salah satu batu keramat itu. Meskipun sempat kembali ke wujudnya, ia tidak akan bisa menggunakan kekuatannya. Lalu aku dan semua Parentela lain menghancurkan batu-batu keramat tersebut sebelum Shrey menjadi sosok yang sempurna, sesuai perintah Lightum. Ketika semua batu hancur, Shrey menjerit kesakitan sekeras-kerasnya.
Ligtum meminta agar aku melempar cambuk ini ke Shrey yang kesakitan. Kemudian mereka berdua lenyap. Ternyata kali ini Ligtum menyegel Shrey untuk selamanya dengan mengorbankan hidupnya. Meskipun motif polkadot di tubuh kami telah hilang, dan kami telah kembali ke keluarga kami serta memiliki hidup yang indah, semua kisah ini akan kami ceritakan kepada anak cucu kami kelak, agar mereka tahu perjuangan kami, perjuangan Para Parantela!

Jumat, 17 Februari 2012

Identitas Diri

Haloo, berikut merupakan identitas saya, tak kenal maka tak sayang kan? oke, langsung saja.

Nama          : Muhammad Isa
TTL             : Palembang, 9 Oktober 1992
Hobi            : Main, Makan, Musik :D
FB              : Muhammad Isa
Twitter         : @isa9x
YM             : muhammadisa.1992

itu aja dulu, kalo mau tau lebih lanjut, mungkin bisa ditanyakan langsung kepada saya? :)
FYI, sekarang status saya sebagai mahasiswa Universitas Sriwijaya, Inderalaya, Sumatera Selatan.

Salam kenal ya :D